Wisata Religi Ke Masjid Agung Sumenep Madura

Awalnya dahulu masjid Agung Sumenep ini bernama Masjid Jami’ Sumenep. Lalu kemudian selang beberapa waktu berganti nama Masjid Agung Sumenep.

Lokasi masjid tersebut berada di tengah-tengah kota dan menghadap ke area taman kota Sumenep,Madura. Meskipun begitu,ternyata usia masjid Agung Sumenep ini telah mencapai ratusan tahun, namun uniknya bangunan masjid ini masih berdiri kokoh dan masih difungsikan dengan sangat baik hingga sekarang.

Wisata Religi Ke Masjid Agung Sumenep Madura

Sumenep sendiri merupakan sebuah kabupaten yang berada di Pulau Madura Jawa Timur. Tepatnya Sumenep berada di ujung timur Madura dengan luas wilayah mencapai 2.093,4 km2 . Dan untuk jumlah penduduk disana kurang lebih mencapai 1 juta jiwa menurut data dari pemda Sumenep.

Sejarah masuknya ajaran agama Islam ke Sumenep ini diprakarsai dan dibawa oleh seseorang yang bernama Sayyid Ahmadul Baidhawi atau lebih dikenal juga dengan sebutan Pangeran Katandur. Sebelumnya juga pada tahun sekitar 1499-an seorang ulama menyebarkan agama islam yang mana ulama ini bernama Raden Bindara Dwiryopodho yang dikenal juga dengan nama Sunan Paddusan.

Namun,akan tetapi menurut sejarah ternyata ada juga beberapa orang yang di sinyalir sebagai penyebar agama Islam di Sumenep sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari yaitu Adipati Sumenep kelima yang mana belaiu ini telah memerintah pada tahun 1319 hingga tahun 1331. Konon Panembahan Joharsari merupakan seorang Raja Sumenep yang pertama kali memeluk agama islam.

Bangunan masjid Agung Sumenep ini sejatinya menjadikan salah satu masjid yang menjadi kebanggan,khusus nya warga kota Sumenep. Masjid ini juga menjadi salah satu masjid terbesar yang ada di Kota Sumenep. Maka,karena itu masjid ini setidaknya telah berusia ratusan tahun,dan juga menjadi salah satu masjid yang sampai saat ini menjadi salah satu warisan sejarah pada masa lalu. Masjid Agung Sumenep memiliki ukuran tanah dengan luas 100 m x 100 m serta dilengkapi juga dengan bangunan sekertariat, bangunan kamar mandi, parkir dan juga tempat untuk berwudhu.

Masjid Agung Sumenep tercatat didirikan setelah Keraton Sumenep selesai dibangun. Pembangunan masjid ini berdasarkan ide dari Pangeran Natakusuma yang mana beliau ini merupakan Adipati Sumenep yang ke 31. Beliau juga dikenal dengan nama Panembahan Somala yang mana selama hidupnya telah berkuasa dari tahun 1762 hingga tahun 1811.

Beliau secara sengaja membangun masjid yang mempunyai ukuran serta kemegahan yang begitu bagus dan terbesar,hal tersebut bertujuan agar dapat menampung para jamaah yang kian hari semakin bertambah banyak. Tetapi pada saat itu bangunan masjid tersebut juga lebih dikenal dengan nama Masjid Laju yang mana telah dibangun terlebih dahulu oleh Adipati Sumenep ke 21 yaitu Pangeran Anggadipa berkuasa dari tahun 1626 hingga tahun 1644 Masehi.

Dipilihlah  seorang arsitek yang juga sebelumnya juga merupakan arsitek untuk melaksanakan pembangunan Keraton Sumenep, dia adalah Lauw Piango. Dia adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang mana merupakan seorang warga keturunan bangsa Cina yang datang ke Sumenep dan juga menetap disana.

Proses pembangunan masjid Agung Sumenep ini dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai secara kesuluruhan pada tahun 1787 Masehi. Bahkan Pangeran Natakusuma berwasiat yang telah ditulis pada tahun 1896 berisi agar selalu menjaga masjid tersebut dan tidak boleh dirusak bahkan juga tidak boleh untuk dijual.

Dilihat dari arsitekturnya, masjid Agung Sumenep ini setidaknya memiliki berbagai macam paduan dari gaya kebudayaan Cina, Arab, Persia, Jawa dan India. Karena dari sentuhan seni di berbagai negara tersebut menghasilkan bangunan masjid yang sangat menarik dan juga tergolong unik.

Seperti halnya bagian pada atap masjid Agung Sumenep yang berbentuk dengan limas bersusun yang biasanya dimiliki oleh beberapa bangunan dari tanah Jawa. Atap ini juga terlihat seperti Joglo yang juga digunakan sebagai bangunan klenteng. Pada bagian ujung tertinggi atap masjid telah dipasang sebuah mustaka yang berbentuk tiga bulatan.

Sedangkan sentuhan ornamen kebudayaan dari negara Cina dan India terdapat pada bagian gerbang utama. Ketika memasuki bangunan masjid ini, ruangan yang ada  di dalamnya ini terlihat begitu megah dan besar,serta tambahan lainnya seperti berbagai macam ukiran khas tanah jawa yang mana dahulu masih sangat berpengaruh,lalu ada juga berbagai sumber budaya lainnya yang menghiasi 10 jendela dan 9 pintu besar yang ada di masjid Agung Sumenep.

Hal yang unik dari masjid ini terdapat dua mimbar di sisi kiri dan kanan mihrab. Dengan kemegahan dan keunikan yang dimiliki masjid Agung Sumenep, menjadikan para jamaah dan pengunjung betah dan khusyuk berada di dalam masjid ini.

Masjid agung sumenep ini mempunyai dominasi warna yang bercorak warna kuning dan juga putih,hal ini dikarenakan dibangun atas perintah Panembahan Sumolo setelah Masjid Laju yang relatif kecil tidak mampu lagi menampung jamaahnya yang kian bertambah. Sampai saat ini, kapasitas masjid agung memuat kurang lebih 2000 jamaah.

Masjid agung Sumenep ini merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan juga mempunyai arsitektur yang sangat khas dengan budaya di Nusantara.

Bagian utama pada masjid agung Sumenep ini secara keseluruhan masih terpengaruh oleh budaya Jawa kuno,yang di adaptasikan pada bagian atap dan tak lupa terda[pat pula budaya asli dari pulau Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.

Masjid agung Sumenep ini sejatinya juga di bekali oleh sebuah minaret yang mana mempunyai desain dan juga arsitektur yang terpengaruh oleh kebudayaan bangsa Portugis,minaretnya ini mempunyai tinggi sekitar 50 meter yang mana minaret ini terdapat di sebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat bangunan kubah masjid. Pada Masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup untuk umum.

Di bagian samping atau lebih tepatnya berada di sebelah pintu depan masjid sumenep ini terdapat sebuah jam duduk yang mempunyai ukuran cukup besarbermerk Jonghans, di atas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa. Di dalam masjid  ini terdapat 13 buah pilar yang mempunyai ukuran begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah, di atas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Di atas terdapat ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu di atasnya juga terdapat ornamen dengan bentuk segi lima dan dominan memanjang ke arah atas, diibaratkan sebagai manusia yang sedang duduk dengan rapi lalu menghadap ke arah kiblat dan dipisahkan juga oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mana hal ini telah mengisyaratkan bahwa apabila masuk atau keluar masjid harus memakai tatakrama dan harus melihat jangan sampai memisahkan kedua orang jama’ah yang mana sedang duduk bersama dan ketika imam masjid keluar menuju mimbar maka janganlah anda mencoba untuk berjalan melangkahi leher seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *